EYENEWSSULTRA.COM-Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bombana kembali menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) Pengendalian Inflasi keempat di tahun 2024 yang dipimpin langsung oleh Pj Bupati Bombana, Edy Suharmanto, dengan tujuan untuk mengevaluasi upaya-upaya yang telah dilakukan dalam mengendalikan inflasi serta memastikan keberlanjutan kebijakan yang dapat menjaga kestabilan ekonomi daerah. Rakor ini menjadi ajang untuk menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam menghadapi tantangan inflasi yang dapat berpengaruh langsung terhadap daya beli masyarakat, terutama yang berpendapatan rendah, dan mengurangi dampak negatif terhadap perekonomian daerah.
Pj Bupati Edy menekankan pentingnya kerjasama antara pemerintah, pelaku usaha, distributor, dan masyarakat untuk bersama-sama mengendalikan laju inflasi, mengingat inflasi yang tinggi dapat membebani kehidupan masyarakat. Beberapa langkah strategis yang dibahas antara lain peningkatan produksi komoditas lokal guna mengurangi ketergantungan pada barang impor, pengendalian distribusi barang agar tidak terjadi penimbunan yang dapat memicu kelangkaan dan lonjakan harga, serta pemanfaatan teknologi informasi untuk memantau pasokan dan harga barang secara real-time, sehingga langkah-langkah pengendalian dapat diambil dengan lebih cepat dan tepat.
Menuurtnya, pentingnya penguatan sektor pangan, yang menjadi fokus utama dalam rakor ini, mengingat kontribusinya yang besar terhadap inflasi. Kenaikan harga bahan pangan seperti beras, minyak goreng, dan sayuran berdampak langsung pada daya beli masyarakat. Pemerintah daerah juga memperkenalkan program subsidi pangan untuk masyarakat berpenghasilan rendah, pasar murah yang digelar secara berkala, serta edukasi kepada masyarakat agar berbelanja di pasar tradisional dan menghemat penggunaan barang konsumsi.
“Pengendalian inflasi bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan memerlukan sinergi dan kerjasama dari berbagai pihak, baik pemerintah pusat, pemerintah provinsi, pelaku usaha, maupun masyarakat,” ungkapnya.
Untuk itu, evaluasi yang dilakukan ini menunjukkan bahwa meskipun ada pencapaian positif dalam penanganan inflasi di Bombana, seperti stabilitas harga komoditas pangan utama dan penurunan angka inflasi dibandingkan tahun sebelumnya, tantangan tetap ada, terutama terkait dengan ketidakpastian harga energi dan biaya logistik. Namun, dengan koordinasi yang terus menerus.

“Tantangan itu pasti ada, namun kita tetap optimis dapat mengatasi tantangan ini dan menciptakan perekonomian yang lebih stabil dan sejahtera bagi masyarakat. Untuk itu, mari kita tetap bekerja secara maksimal dalam menjaga stabilitas harga, meningkatkan produksi pangan lokal, serta memperkuat kerjasama antar-instansi dan pelaku usaha demi kesejahteraan bersama,” imbuhnya.
Sebagai informasi, dalam rapat ini, para pelaku usaha, termasuk distributor dan pedagang besar, juga diundang untuk berbagi tantangan yang mereka hadapi, terutama terkait fluktuasi harga bahan baku dan tingginya biaya logistik. (Kna).












