EYENEWSSULTRA.COM-Upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda yang ke-96 di Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara, berlangsung dengan penuh khidmat dan semangat kebangsaan. Bertempat di halaman Kantor Bupati Bombana, upacara ini dipimpin langsung oleh Penjabat (Pj) Bupati Bombana, Edy Suharmanto. Acara ini tidak hanya menjadi momen penting untuk mengingatkan kita pada peristiwa bersejarah Sumpah Pemuda, tetapi juga menjadi simbol kebanggaan atas budaya lokal yang diusung oleh masyarakat setempat. Pj Bupati Edy Suharmanto menarik perhatian banyak pihak dengan mengenakan pakaian adat Moronene, yang merupakan simbol kebanggaan masyarakat Bombana.
Pakaian adat yang dikenakan oleh Edy Suharmanto pada upacara tersebut memancarkan kebudayaan, sejarah, dan identitas masyarakat Bombana, yang dikenal dengan keragaman budaya dan tradisi yang kaya. Pakaian adat Moronene yang berwarna merah ini, dipilih dengan cermat, lengkap dengan berbagai hiasan dan ornamen yang memiliki filosofi tertentu. Setiap elemen busana ini tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga simbolis, mencerminkan nilai-nilai seperti kehormatan, keberagaman, dan solidaritas dalam kebersamaan.
Menurut Pj Bupati Bombana, pakaian adat Moronene yang ia kenakan pada hari itu merupakan simbol dari kebanggaan masyarakat Bombana. Ia menegaskan bahwa, melalui pakaian adat tersebut, dirinya ingin memberikan penghormatan yang tinggi terhadap budaya lokal yang telah menjadi bagian integral dari kekayaan budaya bangsa Indonesia. “Pakaian adat Moronene yang saya kenakan hari ini adalah simbol dari kebanggaan kita sebagai masyarakat Bombana. Ini juga menjadi wujud penghormatan kita terhadap budaya lokal yang merupakan bagian dari kekayaan budaya bangsa Indonesia,” tuturnya saat dimintai keterangan selepas memimpin upacara.

Lebih lanjut, Edy Suharmanto menambahkan bahwa sebagai generasi muda, kita memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan melestarikan budaya lokal, karena dengan cara inilah kita turut memperkuat jati diri bangsa Indonesia. “Sebagai pemuda, kita harus menjaga dan melestarikan budaya kita, karena dengan menjaga budaya lokal, kita turut memperkuat jati diri bangsa,” tambahnya.
Di Indonesia, setiap daerah memiliki pakaian adat yang khas, yang sering kali dikenakan dalam upacara adat, perayaan, atau acara penting lainnya. Pakaian adat bukan hanya sekadar penutup tubuh, tetapi juga sarat dengan makna simbolis yang mendalam, mencerminkan nilai-nilai budaya dan tradisi masyarakat setempat. Pakaian adat berfungsi sebagai identitas suatu komunitas dan sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah dan nilai-nilai luhur yang dipegang oleh masyarakat tersebut. Dalam hal ini, pakaian adat Moronene yang dikenakan oleh Pj Bupati Bombana pada upacara Hari Sumpah Pemuda adalah bentuk penghormatan terhadap identitas kebudayaan lokal yang turut mendukung semangat persatuan bangsa.
Pj Bupati juga menekankan bahwa pakaian adat bukan hanya simbol kebanggaan budaya, tetapi juga sebagai media untuk melestarikan dan mengenalkan warisan tradisional kepada generasi muda. Hal ini penting untuk menjaga agar nilai-nilai budaya tersebut tidak hilang seiring perkembangan zaman. “Pakaian adat juga menjadi media untuk melestarikan budaya dan memperkenalkan warisan tradisional kepada generasi muda, serta menunjukkan bahwa budaya lokal adalah bagian yang tak terpisahkan dari identitas bangsa Indonesia,” katanya.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pakaian adat adalah pakaian resmi khas daerah yang melambangkan identitas, adat, dan tradisi suatu kelompok masyarakat atau suku. Identitas ini biasanya mencerminkan budaya dan sejarah suku bangsa yang mendiami daerah tersebut. Sebagai bagian dari kebudayaan lokal, pakaian adat tidak hanya berfungsi untuk menutup tubuh, tetapi juga berfungsi sebagai simbol kebanggaan terhadap budaya dan sejarah yang berkembang di suatu daerah.
Pakaian adat suku Moronene, yang dikenakan oleh Pj Bupati Bombana, memiliki desain unik dan khas yang telah berkembang dari masa lampau dan sangat terkait dengan perjalanan sejarah nenek moyang suku Moronene. Meskipun ada beberapa kemiripan dengan pakaian adat suku-suku lain di Nusantara, pakaian adat Moronene memiliki ciri khas tersendiri yang membedakannya. Pakaian adat ini bukanlah pakaian yang digunakan sehari-hari, melainkan pakaian formal yang digunakan dalam acara-acara khusus, seperti upacara adat, pelantikan Raja, musyawarah adat, hingga acara pernikahan.
Pada acara pernikahan pun, penggunaan pakaian adat ini terbatas hanya pada prosesi atau ritual adat saja. Seiring perkembangan zaman, pakaian adat mulai diperbolehkan digunakan dalam kegiatan pagelaran seni dan budaya, serta dalam acara kenegaraan atau pemerintahan. Namun, untuk menjaga keluhuran nilai budaya yang terkandung dalam pakaian adat, penggunaannya tetap dibatasi pada acara-acara yang memiliki makna penting dan bersejarah.
Untuk pakaian adat pria suku Moronene, yang disebut “kambalala”, bentuk dan desainnya mirip dengan pakaian tradisional Melayu, seperti kemeja dan celana, dengan tambahan sarung di pinggang. Yang membedakan pakaian ini dengan pakaian adat dari daerah lain adalah bentuk ikat kepala yang disebut “taali”. “Taali” bukan sekadar ikat kepala biasa, melainkan sebuah simbol yang menunjukkan status sosial seseorang. Ada perbedaan bentuk “taali” antara raja, kalangan bangsawan, dan masyarakat umum. Selain itu, aksesoris lain yang sering digunakan adalah “pekokori” (ikat pinggang) dan “tobo” (keris). Budayawan Kasra Jaru Munara menulis bahwa “tobo” hanya digunakan oleh Raja dan bangsawan, dan disematkan di pinggang sebelah kiri, sebagai simbol kebesaran dan kehormatan.

Untuk pakaian adat wanita suku Moronene, yang disebut “kombo” atau “taikombo”, terdiri dari dua bagian, yaitu tunik dan sarung. Tunik pada pakaian adat wanita ini tidak longgar, dan bagian bawah baju memiliki potongan menyerupai ekor burung srigunting atau drongo. Burung srigunting ini dikenal sebagai burung yang cerdik dan sangat protektif terhadap anaknya, sehingga simbol ini menggambarkan sifat seorang ibu dalam masyarakat Moronene yang sangat melindungi keluarga dan generasinya.
Pakaian adat Moronene, seperti yang dikenakan oleh Pj Bupati Bombana, merupakan bagian dari identitas budaya yang harus dijaga dan dilestarikan. Melalui pengenalan dan penggunaan pakaian adat dalam acara resmi, seperti peringatan Hari Sumpah Pemuda, masyarakat dapat terus memperkenalkan budaya lokal kepada generasi muda dan memastikan bahwa warisan tradisional ini tetap hidup dan relevan dalam kehidupan modern. Ini adalah langkah penting untuk memperkuat jati diri bangsa Indonesia dan menjaga kebanggaan terhadap kebudayaan yang telah ada sejak zaman nenek moyang. (ADV).












