Pj Gubernur Imbau Tingkatkan Kewaspadaan Menghadapi Dampak Perubahan Iklim

  • Bagikan

SULTRAANALIS.COM- Dalam menghadapi tantangan perubahan iklim yang semakin nyata, Penjabat (Pj) Gubernur Sulawesi Tenggara (Sultra), Andap Budhi Revianto menyoroti beberapa hal krusial yang perlu diperhatikan. Berdasarkan data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), terungkap bahwa perubahan iklim telah menjadi penyebab utama di balik kondisi cuaca dan iklim ekstrim di beberapa wilayah Indonesia.

Andap mengatakan, masyarakat dan pemerintah daerah tentu perlu lebih waspada terhadap perubahan iklim yang terjadi saat ini. Mengingat kondisi ini banyak menyebabkan terjadinya perubahan cuaca dan iklim ekstrim di beberapa daerah.

“Sebagai contoh fenomena El Niño dan La Niña yang kini terjadi setiap tahun, padahal siklus sebelumnya berkisar 5-7 tahun. Dampaknya terasa dengan meningkatnya frekuensi bencana hidrometeorologi, baik dalam bentuk banjir maupun kekeringan di beberapa wilayah Indonesia,”kata Andap.

Dijelaskan, saat ini anomali cuaca seperti kekeringan ekstrim dan curah hujan yang tinggi, yang sering disertai dengan angin kencang dan petir, semakin sering terjadi. Seperti dampak nyata dari perubahan iklim adalah banjir yang baru-baru ini melanda Kota Kendari. Banjir ini menjadi bukti yang menyakitkan akan urgensi untuk menghadapi tantangan yang dihadapi oleh masyarakat setempat.

Menyikapi prakiraan puncak musim hujan di wilayah Sulawesi Tenggara yang diperkirakan terjadi pada bulan April dan Juni tahun 2024, Pj Gubernur menekankan perlunya kewaspadaan yang lebih tinggi. Tidak hanya itu, memasuki pertengahan tahun 2024 sebelum memasuki musim kemarau, masa transisi dari musim hujan ke musim kemarau juga dianggap sebagai periode yang rentan terhadap cuaca ekstrem.

“Dipertengahan tahun 2024 sebelum memasuki musim kemarau, kita perlu waspadai masa transisi atau masa peralihan (musim hujan ke musim kemarau) ada potensi cuaca ekstrim yang terjadi dimasa peralihan, seperti terjadinya puting beliung, hujan deras disertai angin kencang dan petir,”jelas Andap.

Potensi ancaman selama masa transisi ini, menuntut kesiagaan yang lebih besar dari pihak terkait. Oleh karena itu, langkah-langkah mitigasi dan persiapan yang tepat harus diambil untuk menghadapi potensi bencana yang dapat terjadi.

Pj Gubernur Sulawesi Tenggara memandang pentingnya menyampaikan informasi ini sebagai masukan yang berharga bagi semua pihak terkait dalam mengambil tindakan preventif dan responsif yang diperlukan. ” Dengan demikian, diharapkan dapat mengurangi dampak buruk dari perubahan iklim yang semakin terasa di masyarakat. Semoga informasi ini dapat menjadi pijakan untuk langkah-langkah yang lebih baik di masa depan,”pungkasnya. (adm)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *